PANDUGA.ID, PONTIANAK – Nama Dyastasita WB tengah menjadi sorotan publik setelah dikaitkan dengan polemik penilaian dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat (Kalbar) yang viral di media sosial.
Kontroversi mencuat usai beredarnya video pelaksanaan lomba yang memperlihatkan perbedaan pemberian poin terhadap jawaban peserta yang dinilai memiliki substansi serupa. Perdebatan mengenai objektivitas dewan juri pun meluas di berbagai platform media sosial.
Salah satu akun media sosial sekolah, @smansaptk.informasi, turut meminta adanya klarifikasi terbuka terkait mekanisme penilaian dalam kompetisi tersebut. Pihak SMAN 1 Pontianak (SMASA) juga berharap ada penjelasan resmi guna menjaga integritas lomba.
Di tengah polemik tersebut, SMAN 1 Sambas dipastikan melaju mewakili Kalimantan Barat ke tingkat nasional dalam ajang LCC 4 Pilar yang diselenggarakan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI).
Profil Dyastasita WB
Dyastasita Widya Budi atau Dyastasita WB menjadi salah satu sosok yang ramai diperbincangkan karena berperan sebagai dewan juri dalam LCC 4 Pilar Kalbar.
Berdasarkan informasi dari laman resmi MPR RI, Dyastasita menjabat sebagai Kepala Biro Pengkajian Konstitusi pada Deputi Bidang Pengkajian dan Pemasyarakatan Konstitusi di lingkungan Sekretariat Jenderal MPR RI.
Ia juga tercatat memiliki pangkat Pembina Utama (IV/e) dan aktif dalam berbagai kegiatan pemasyarakatan Empat Pilar MPR RI. Dari sisi pendidikan, Dyastasita merupakan lulusan strata satu (S-1) dengan gelar Sarjana Sosial (S.Sos).
Seiring viralnya polemik penilaian LCC 4 Pilar Kalbar, rekam jejak dan profil Dyastasita pun ikut menjadi perhatian publik. Banyak warganet mencari informasi mengenai latar belakang hingga jabatan yang diembannya di lingkungan MPR RI.
Harta Kekayaan Dyastasita WB
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan pada 26 Maret 2026 untuk periode 2025, Dyastasita Widya Budi tercatat memiliki total kekayaan sebesar Rp581.220.940 setelah dikurangi utang.
Dalam laporan tersebut, Dyastasita tercatat memiliki aset tanah dan bangunan senilai Rp697.120.000, yang terdiri atas:
- Tanah dan bangunan seluas 96 m²/96 m² di Jakarta Pusat senilai Rp251.136.000
- Tanah dan bangunan seluas 40 m²/40 m² di Jakarta Selatan senilai Rp80.440.000
- Tanah dan bangunan seluas 209 m²/58 m² di Jakarta Pusat senilai Rp365.544.000
Selain itu, tercatat kas dan setara kas sebesar Rp1.675.031. Sementara kategori alat transportasi, harta bergerak lainnya, surat berharga, dan aset lain tidak tercantum dalam laporan.
Total keseluruhan harta Dyastasita mencapai Rp698.795.031 dengan jumlah utang sebesar Rp117.574.091.
Awal Mula Polemik Penilaian LCC 4 Pilar Kalbar
Kontroversi penilaian bermula dari pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Dalam perlombaan tersebut, peserta diminta menjawab lembaga yang pertimbangannya wajib diperhatikan DPR saat memilih anggota BPK.
Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjawab:
“Anggota-anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan presiden.”
Namun, jawaban itu mendapat pengurangan nilai dari dewan juri.
“Nilai -5,” ujar Dyastasita dalam tayangan lomba.
Dyastasita menjelaskan pengurangan poin dilakukan karena unsur Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dinilai tidak terdengar jelas saat jawaban disampaikan.
Tak lama kemudian, pertanyaan serupa diberikan kepada regu lain yang menyampaikan jawaban dengan substansi hampir sama dan justru memperoleh nilai penuh.
Perbedaan penilaian itu kemudian diprotes oleh peserta dari regu C. Salah satu dewan juri menjelaskan bahwa penilaian didasarkan pada kejelasan artikulasi jawaban peserta.
“Artikulasi itu penting. Dewan juri menilai berdasarkan apa yang terdengar jelas. Kalau tidak terdengar, maka juri berhak memberikan pengurangan nilai,” ujar juri dalam forum perlombaan.
Panitia dan pembawa acara selanjutnya meminta seluruh peserta menerima keputusan dewan juri serta menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan evaluasi.





Discussion about this post