PANDUGA.ID, PONTIANAK – Calon presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo melontarkan sindiran terhadap jenderal yang sebelumnya menghukum Prabowo Subianto atas dugaan pelanggaran HAM.
Ganjar menilai mereka tidak etis karena saat ini mendukung Prabowo sebagai calon presiden nomor urut 2 pada Pilpres 2024.
Hal itu disampaikan Ganjar saat kampanye dan dialog bersama mahasiswa dan generasi Z di Pontianak Convention Center, Pontianak, Kalimantan Barat, belum lama ini.
Awalnya Ganjar ditanya soal pengelolaan HAM di Indonesia.
“Pak, mohon jangan gunakan kampanye ini hanya jika menyangkut pelanggaran HAM. Ini juga yang menjadi harapan kami, kami menuntut agar permasalahan ini segera diselesaikan agar tidak menjadi dokumen yang selalu digunakan dalam pemilu. Kami ingin kebenaran ada, kebenaran ada untuk masyarakat Indonesia,” kata Astarina, salah satu mahasiswa.
Ganjar kemudian menjawab pertanyaan tersebut dan mengenang momen debat pertama Pilpres 2024 saat bertanya kepada Prabowo soal isu HAM.
Ganjar mengatakan pertanyaan itu tidak bias untuk mendiskreditkan Prabowo.
“Jadi ada kaitannya dengan pelanggaran HAM. Kalau menyaksikan debat pertama, sayalah yang berani bertanya langsung di depan Pak Prabowo. Apakah kamu menghinanya? TIDAK. Apakah saya menyebutkan masa lalu? TIDAK. Dia benar sebelumnya. Karena saya ingin memastikan perdebatan ini tidak terjadi lagi setiap pemilihan presiden. Jadi tugas negara untuk memastikan hal itu,” kata Ganjar.
“Jadi pertama-tama saya mengajukan dua pertanyaan: pertama: ‘Jika terpilih, apakah Anda akan membentuk pengadilan hak asasi manusia?’ Karena diperintahkan pada tahun 2009 melalui keputusan DPR tapi sampai saat ini belum ada yang melaksanakan dan sampai saat ini belum ada yang memutuskan dan masih berulang setiap 5 tahun sekali. Saya tanya langsung,” imbuhnya.
Kritik Jenderal
Ganjar kemudian mengkritik sang jenderal atas pertanyaan yang diajukannya.
Ganjar menilai sikap sang jenderal tidak etis.
Sebab, lanjut Ganjar, sang jenderal sebelumnya sempat mengecam pelanggaran HAM terhadap Prabowo, namun kini beralih dukungan.
“Kemudian, beberapa jenderal yang ikut serta dalam hukuman tersebut berkomentar sebagai berikut: ‘Ini adalah pertanyaan yang tidak etis.’ Sangat tidak etis kawan. Sebelum kamu memutuskan, dan hari ini kamu berada di kampnya dan kamu berubah pikiran, saudara yang tidak bermoral,” katanya.
Ganjar mengaku tengah memantau permasalahan terkait pelanggaran HAM.
Dia pun menceritakan momen debat pertama saat dirinya bertanya kepada Prabowo soal pengadilan HAM.
Pihaknya mengatakan, pertanyaan tersebut belum terjawab secara jelas.
“Kemarin saya menerima SMS dari orang tua yang anaknya hilang. Itu pertanyaan kedua, kan? Jika Anda mengetahuinya, mungkin Anda bisa membantu menemukan kuburan mereka agar mereka bisa berziarah. Dan saya dengar Anda bias,” katanya.
“Padahal sebelumnya ayahnya telah menyatakan bahwa ia mengaku menculik putranya. Padahal pengadilan kehormatan militer telah memutuskan bahwa ia bersalah dalam hal tersebut. Jadi kita tidak bisa membohongi republik ini. Makanya integritas harus dijaga,” imbuhnya.(CC-01)






Discussion about this post