PANDUGA.ID, BULUKUMBA – Nurul Faidil, seorang ibu hamil asal Kassimpureng, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, harus menghadapi kenyataan pahit setelah suaminya, Saenal (32), menjadi korban penikaman oleh orang tak dikenal pada 10 Maret 2024, jelang Maghrib.
Saenal menderita empat tikaman di pipi kiri, perut kiri, lengan kanan, dan paha kanan.
Saenal segera dilarikan ke RSUD Bulukumba untuk menjalani operasi sebagai pasien umum.
Setelah tiga hari, ia dirujuk ke RS Wahidin Sudirohusodo karena didiagnosa infeksi usus, menyebabkan tagihan rumah sakit mulai membengkak.
Pada hari pertama rawat inap di RS Wahidin, tagihan mencapai Rp43 juta, dan di hari kedua, biaya melonjak menjadi Rp62 juta.
Kembali ke Bulukumba, Saenal harus keluar masuk RSUD Bulukumba karena luka bekas operasinya tak kunjung sembuh, hingga akhirnya dirujuk kembali ke RS Wahidin.
Di sana, Saenal berjuang di ruang perawatan ICU selama lima hari sebelum dinyatakan meninggal pada 3 Juni 2024.
Selama masa perawatan tersebut, tagihan rumah sakit mencapai puluhan juta rupiah.
Kini, Nurul Faidil harus menanggung utang rumah sakit yang mencapai ratusan juta rupiah sambil menghadapi kehamilannya tanpa suami di sisinya.
“Total tagihan almarhum suami saya di RS Wahidin Sudirohusodo adalah Rp118 juta,” kata Nurul Faidil pada Rabu (5/6/2024).
Nurul tidak tahu bagaimana cara membayar tagihan tersebut. Ia tidak bisa meminta bantuan keluarga suaminya karena suaminya adalah anak tunggal, dan mertuanya juga telah tiada.
Semasa hidup, suaminya bekerja sebagai buruh serabutan sehingga tidak memiliki simpanan.
Beban Nurul semakin berat karena ia hanya seorang ibu rumah tangga dengan empat anak yang harus dipenuhi kebutuhannya, ditambah lagi ia sedang hamil lima bulan sehingga sulit untuk bekerja.
Rumah yang ditempati saat ini adalah peninggalan mertuanya.
Nurul Faidil hanya bisa pasrah dan berharap uluran tangan dari para dermawan untuk meringankan beban berat yang ia tanggung. (CC02)






Discussion about this post