PANDUGA.ID, JAKARTA – Banyak pembaca buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans mengaku mengalami reaksi fisik yang tidak biasa. Ada yang merasakan dada sesak, jantung berdebar kencang, hingga tiba-tiba menangis tanpa bisa menahan emosi saat menyelami kisah kelam sang aktris.
Buku ini memang memuat cerita yang berat. Aurelie menuturkan pengalaman traumatisnya menjadi korban grooming sejak usia 15 tahun, hingga akhirnya dipaksa menikah di bawah ancaman. Namun muncul pertanyaan besar: mengapa kisah orang lain bisa membuat tubuh kita ikut merasa sakit?
Emosi Bisa “Menular” ke Tubuh Pembaca
Psikolog RS Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa reaksi tersebut wajar secara psikologis. Ada mekanisme saraf di otak manusia yang membuat emosi orang lain bisa terasa sangat nyata.
“Otak manusia memiliki sistem saraf yang disebut mirror neuron. Sistem ini membuat kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, seolah-olah kita sedang menyaksikan kejadian itu secara langsung,” jelas Yustinus.
Fenomena ini dikenal sebagai emotional contagion atau penularan emosi. Saat pembaca tenggelam dalam cerita penuh tekanan batin, otak akan memproses narasi tersebut sebagai pengalaman emosional yang nyata.
Trauma Lama Bisa Aktif Kembali
Menurut Yustinus, reaksi akan lebih kuat pada pembaca yang pernah mengalami kejadian serupa di masa lalu. Dalam kondisi ini, otak bisa mengaktifkan kembali ingatan traumatis yang tersimpan di alam bawah sadar.
“Ingatan traumatis tidak tersimpan seperti ingatan biasa. Ia bisa muncul dalam bentuk sensasi tubuh atau potongan gambar. Itu sebabnya tubuh bisa bereaksi lebih dulu, seperti sesak napas atau gemetar, sebelum pikiran menyadarinya,” ujarnya.
Inilah alasan mengapa sebagian pembaca merasa tubuhnya “diserang” secara fisik saat membaca kisah trauma, meski mereka hanya berinteraksi lewat tulisan.
Healing atau Justru Retraumatisasi?
Aurelie berharap Broken Strings menjadi sarana penyembuhan batin sekaligus peringatan tentang hubungan toksik. Namun, Yustinus mengingatkan bahwa proses healing yang sehat harus membuat seseorang merasa aman dan terkendali.
“Jika setelah membaca Anda justru merasa terpuruk, cemas berkepanjangan, atau sulit tidur, itu bukan healing. Itu adalah retraumatisasi, yaitu luka lama terbuka kembali tanpa dukungan yang cukup,” tegasnya.
Artinya, tidak semua orang berada di kondisi psikologis yang aman untuk mengonsumsi konten trauma secara mendalam.
Kenali Tanda Emotional Overload
Tubuh sebenarnya memberikan sinyal jelas saat kondisi mental sudah kewalahan. Yustinus menyarankan pembaca segera berhenti membaca sejenak jika mengalami tanda-tanda berikut:
Tanda Fisik:
-
Dada terasa sesak
-
Napas pendek
-
Pusing atau mual
-
Tangan gemetar
Tanda Emosional:
-
Menangis hebat tiba-tiba
-
Merasa kosong atau mati rasa
Tanda Pikiran:
-
Sulit fokus
-
Pikiran terus kembali ke pengalaman buruk masa lalu
Jika gejala ini muncul, penting untuk berhenti, menenangkan diri, dan mencari dukungan dari orang terdekat atau profesional kesehatan mental.
Mendengarkan Tubuh adalah Bentuk Merawat Diri
Membaca kisah trauma bisa membuka empati, namun mendengarkan batas tubuh sendiri adalah bentuk self-care. Tidak ada kewajiban untuk menuntaskan buku jika kondisi mental belum siap.
Sebagaimana pesan psikolog, healing bukan tentang memaksa diri kuat, melainkan memberi ruang aman bagi diri sendiri.






Discussion about this post