PANDUGA.ID, JAKARTA – Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menyerukan dimulainya kembali operasi militer berskala penuh di Jalur Gaza menyusul insiden di Rafah yang disebut oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas. Pernyataan keras Ben-Gvir menambah tekanan politik di dalam pemerintahan Koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Menurut IDF, pada hari Minggu Hamas menembakkan rudal anti-tank dan menembaki pasukan Israel yang beroperasi di Rafah, sehingga Israel merespons dengan serangkaian serangan udara terhadap sasaran yang diklaim sebagai infrastruktur teror. Menanggapi laporan itu, Ben-Gvir mendesak agar Perdana Menteri segera memerintahkan IDF “memperbarui pertempuran skala penuh di Jalur Gaza dengan kekuatan penuh.”
Kronologi singkat dan posisi kedua belah pihak
Israel dan Hamas sebelumnya mencapai gencatan senjata sementara pada awal Oktober di bawah rencana perdamaian 20 poin yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump. Tahap pertama perjanjian mengharuskan pembebasan sandera oleh Hamas dan penarikan pasukan Israel ke garis yang disepakati.
Hamas menyatakan telah membebaskan 20 tawanan yang masih hidup dan mengembalikan jenazah 12 lainnya, namun Israel menuduh masih ada jenazah 16 tawanan yang belum dikembalikan. Kedua pihak saling tuding soal pelanggaran gencatan senjata.
Di pihak Israel, Perdana Menteri Netanyahu memerintahkan IDF “mengambil tindakan tegas terhadap target-target teror di Jalur Gaza,” tetapi pernyataan kantor PM tidak menjelaskan apakah itu berarti melanjutkan operasi militer penuh.
Sementara itu pejabat Hamas, termasuk Izzat al-Risheq, menyatakan kelompok itu tetap berkomitmen pada gencatan dan menuduh Israel melanggarnya. Sayap militer Hamas menyatakan tidak mengetahui insiden di Rafah karena mengalami gangguan komunikasi dengan faksi-faksi lokal sejak Maret lalu.
Tekanan politik domestik Israel
Insiden ini memicu reaksi keras dari kalangan pemerintahan Israel. Menteri-menteri sayap kanan, termasuk Amichai Chikli dan Bezalel Smotrich, mengeluarkan pernyataan yang mengisyaratkan ketidakpuasan dan dorongan untuk tindakan militer lebih luas. Avi Dichter, kolega di kabinet, menggambarkan situasi sebagai “sulit dan kompleks” dan menegaskan bahwa Israel tidak akan menyerah untuk melucuti senjata Hamas.
Ben-Gvir, yang dikenal vokal, menulis di platform X agar militer melanjutkan pertempuran “dengan kekuatan maksimum.” Pernyataan itu menambah ketegangan politik mengingat kabinet koalisi yang rapuh dan beragam suara soal strategi terhadap Gaza.
Dampak dan langkah berikutnya
Selain eskalasi retorika, kejadian ini menunjukkan kerentanan gencatan senjata yang masih rapuh—khususnya di wilayah seperti Rafah yang menjadi titik gesekan. Langkah nyata selanjutnya bergantung pada keputusan militer dan politik di tingkat kabinet, respon lapangan IDF, serta mekanisme verifikasi udah/diduga pelanggaran gencatan yang disepakati sebelumnya.(CC-01)






Discussion about this post