Panduga.id
  • Home
  • Breaking News
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Berita Eksklusif
  • Lainnya
    • Viral
    • UMKM
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Pilkada
    • Bisnis
No Result
View All Result
  • Home
  • Breaking News
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Berita Eksklusif
  • Lainnya
    • Viral
    • UMKM
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Pilkada
    • Bisnis
No Result
View All Result
Panduga.id
No Result
View All Result
Home Daerah

Kekerasan Anak di Kota Semarang Meningkat, Aktivis Serukan Penanganan Serius

CC-02 by CC-02
10 September 2024
in Daerah
0
penganiayaan
0
SHARES
43
VIEWS
Share on WhatsApp

PANDUGA.ID, SEMARANG – Kota Semarang kembali diguncang dua kasus kekerasan terhadap anak dalam sepekan terakhir. Kasus pertama melibatkan kekerasan verbal yang menimpa siswa TK dan SD di sebuah sekolah di Kecamatan Semarang Tengah, yang terungkap pada Rabu (4/9/2024). Sedangkan kasus kedua, melibatkan penganiayaan fisik yang dialami seorang siswa SD oleh pelajar SMP di Kecamatan Tembalang pada Jumat (6/9/2024).

Aktivis perlindungan anak, Bintang Alhuda, menyatakan keprihatinannya atas dua insiden tersebut. Namun, dia menekankan pentingnya riset lebih mendalam untuk memastikan apakah kedua kasus tersebut bisa dikategorikan sebagai perundungan. Menurutnya, banyak orang yang masih salah kaprah dalam membedakan bullying dengan bentuk kekerasan lainnya.

“Fenomena saat ini menunjukkan bahwa masyarakat sering kali tidak bisa membedakan antara bullying dengan kekerasan lainnya. Bullying adalah kejahatan luar biasa, jadi jangan sampai kita mengecilkan makna perundungan itu sendiri,” ujar Bintang, yang juga merupakan pendamping anak dari Yayasan Setara, lembaga yang berfokus pada pemenuhan hak dan perlindungan anak, pada Senin (9/9/2024).

Bintang menjelaskan bahwa tindakan perundungan dapat diidentifikasi melalui tiga indikator utama: dilakukan secara berulang, adanya ketimpangan kekuasaan, dan adanya niat untuk menyakiti korban. Jika ketiga indikator tersebut tidak terpenuhi, maka tindakan tersebut mungkin lebih tepat dikategorikan sebagai kekerasan fisik, verbal, atau penganiayaan.

“Bullying jauh lebih kejam karena melibatkan penindasan yang dilakukan secara berulang, di mana korban tak bisa melawan,” tambahnya.

Ia bahkan menyamakan keseriusan kasus bullying dengan kekerasan seksual, yang menurutnya tidak boleh diselesaikan melalui jalur damai atau kekeluargaan. “Kasus perundungan harus ditangani dengan serius, sama seperti kekerasan seksual,” tegas Bintang.

Bintang juga menekankan bahwa pencegahan perundungan bisa dilakukan dengan meningkatkan kepekaan lingkungan sekitar. “Teman-teman korban harus segera melaporkan kepada pihak yang berwenang ketika melihat tanda-tanda kekerasan atau perundungan,” ujarnya.

Dalam pekan yang sama, dua kasus kekerasan terhadap anak ini menambah panjang daftar insiden serupa di Kota Semarang. Berdasarkan data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang, tercatat ada 61 kasus kekerasan anak dari 1 Januari hingga 9 September 2024. Kasus-kasus ini tersebar di beberapa kecamatan, dengan jumlah tertinggi berada di Semarang Timur (14 kasus) dan Semarang Utara (13 kasus).

Untuk menekan angka kekerasan terhadap anak, Bintang menyarankan agar perhatian lebih diberikan kepada tiga aspek utama dalam perkembangan anak: lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah. Menurutnya, ketiga faktor ini saling mempengaruhi tumbuh kembang anak, dan ketidakseimbangan dalam salah satu aspek dapat memicu perilaku agresif pada anak.

“Perilaku anak harus dilihat dari perspektif yang lebih luas, yaitu dari ketiga faktor tersebut. Semua aspek ini harus diciptakan sebaik mungkin demi mendukung perkembangan anak yang sehat,” jelas Bintang.

Dengan meningkatnya jumlah kasus kekerasan anak di Kota Semarang, penting bagi semua pihak untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak-anak. (CC02)

Tags: bullypolrestabes semarangsemarangstop bully
Previous Post

Pelaku Bully dan Penganiaya Bocah SD di Semarang Tak Ditahan Polisi

Next Post

Kasus Pelajar SMA Bully Anak TK dan SD di Semarang Berakhir Damai

Related Posts

bacok
Daerah

Supandang Tewas Dibacok Saat Tagih Utang Rp500 Ribu di Probolinggo

18 Agustus 2026
Ilustrasi Basarnas selamatkan pendaki terjatuh di Gunung Slamet. (dok. istimewa)
Daerah

Pendaki 16 Tahun Terjatuh ke Kawah Gunung Slamet, Tim SAR Bergerak

18 Agustus 2026
Seorang wanita di Malang menjadi korban penipuan setelah menikah siri dengan sosok yang mengaku pria. (dok. istimewa)
Breaking News

Sempat Dijanjikan Lamborgini, Wanita di Malang Tertipu Nikah Siri dengan ‘Pria’ yang Ternyata Perempuan

9 April 2026
tawuran
Daerah

Viral Tawuran Remaja di Semarang Gara-Gara Layangan Putus, Warga: Sudah Biasa Saat Musim Layangan

9 April 2026
Next Post
bully

Kasus Pelajar SMA Bully Anak TK dan SD di Semarang Berakhir Damai

Discussion about this post

Tentang Kami

Panduga.id

Panduga.id adalah media digital Indonesia yang berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Pemberitaan Media Siber yang diatur oleh Pemerintah Indonesia.

“Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk manusia lain”
Pimpinan Redaksi – Agung Wisnu

Berita Terkini

  • BREAKING NEWS! Prabowo Rombak Pucuk Pimpinan Polri Hingga Wakil Menteri, Berikut Sosoknya
  • Bareskrim Polri dan Polisi Malaysia Perkuat Kerja Sama Berantas Narkotika Lintas Negara
  • Menhut Raja Juli Proses Cabut Izin 6 Korporasi Terkait Karhutla di Kalimantan
  • Menkop Ferry Juliantono Luruskan Anggaran Rp103 Miliar, Bukan Khusus untuk Podcast
  • HUT ke-81 Kejaksaan, ST Burhanuddin: Saatnya Kita Bangkit Bersama

Panduga Video

  • Iklan
  • Karir
  • Contact Us
  • Redaksi

Copyright: @ 2026 Panduga.id. All right reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Breaking News
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Pilkada
  • Berita Eksklusif
  • UMKM
  • Viral
  • Politik
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Bisnis

Copyright: @ 2026 Panduga.id. All right reserved