Panduga.id
  • Home
  • Breaking News
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Berita Eksklusif
  • Lainnya
    • Viral
    • UMKM
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Pilkada
    • Bisnis
No Result
View All Result
  • Home
  • Breaking News
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik
  • Berita Eksklusif
  • Lainnya
    • Viral
    • UMKM
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Pilkada
    • Bisnis
No Result
View All Result
Panduga.id
No Result
View All Result
Home Breaking News

Sejarah Lengkap Raja-Raja Keraton Solo: Profil Paku Buwono I hingga Paku Buwono XIII

CC-01 by CC-01
6 November 2025
in Breaking News, Nasional
0
KGPAA Hamangkunegoro (dok. istimewa)

KGPAA Hamangkunegoro (dok. istimewa)

0
SHARES
2
VIEWS
Share on WhatsApp

PANDUGA.ID, SOLO – Keraton Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo adalah salah satu pusat kebudayaan Jawa yang memiliki perjalanan sejarah panjang dan penuh dinamika. Para raja yang bergelar Paku Buwono (PB) memainkan peran penting dalam perkembangan politik, budaya, hingga struktur sosial Jawa dari masa ke masa.

Mulai dari masa pemindahan ibu kota Mataram Islam ke Surakarta, pembagian kerajaan melalui Perjanjian Giyanti, hingga pertikaian suksesi modern di era PB XIII, setiap raja meninggalkan jejak sejarah dan warisan budaya yang masih dapat dirasakan hingga hari ini.

Berikut adalah profil singkat raja-raja Keraton Solo dari PB I hingga PB XIII:

1. Paku Buwono I (1705–1719 M)

Paku Buwono I, yang memiliki nama asli Pangeran Puger, memerintah Mataram Islam di Kartasura, bukan di Surakarta. Ia naik takhta setelah Perang Suksesi Jawa melawan Amangkurat III dengan dukungan VOC. Sebagai imbalannya, ia harus menandatangani perjanjian yang menyebabkan penyusutan wilayah Mataram.

2. Paku Buwono II (1726–1749 M)

Raja yang memindahkan pusat kerajaan dari Kartasura ke Surakarta setelah Geger Pecinan. Ia mendirikan Keraton Surakarta pada tahun 1742. Pada akhir hidupnya, PB II menandatangani perjanjian penyerahan kedaulatan Mataram kepada VOC.

3. Paku Buwono III (1749–1788 M)

Masa pemerintahannya ditandai lahirnya Perjanjian Giyanti (1755) yang membagi kerajaan menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. PB III juga menyerahkan wilayah kepada Raden Mas Said yang kemudian menjadi Mangkunegara I.

4. Paku Buwono IV (1788–1820 M)

Dikenal sebagai Sunan Bagus, ia memperbaiki Masjid Agung dan membangun berbagai fasilitas keraton. Pemerintahannya membawa pembaruan di bidang kebudayaan dan arsitektur.

5. Paku Buwono V (1820–1823 M)

Dikenal sebagai Sunan Sugih, karena membagi warisan keluarganya kepada saudara-saudara. Pemerintahannya berlangsung singkat selama sekitar tiga tahun.

6. Paku Buwono VI (1823–1830 M)

Sunan yang berjiwa patriotik dan mendukung Perang Diponegoro secara diam-diam. Karena sikap anti-Belanda, ia ditangkap dan diasingkan ke Ambon hingga wafat. Ia kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

7. Paku Buwono VII (1830–1858 M)

Masa pemerintahannya berlangsung stabil namun diwarnai penyerahan daerah-daerah Mancanegara kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda.

8. Paku Buwono VIII (1858–1861 M)

Memerintah dalam periode singkat dan relatif tanpa gejolak. Ia dikenal sebagai tokoh yang bijak dan dekat dengan rakyat.

9. Paku Buwono IX (1861–1893 M)

Raja yang membawa kemajuan pesat bagi Surakarta, terutama dalam pembangunan keraton, budaya sastra, dan pertanian.

10. Paku Buwono X (1893–1939 M)

Salah satu raja paling terkenal. PB X mendukung kebangkitan nasional, termasuk organisasi Budi Utomo dan Sarekat Islam. Ia membangun infrastruktur penting seperti Stasiun Solo Jebres dan Stadion Sriwedari.

11. Paku Buwono XI (1939–1945 M)

Masa pemerintahannya penuh gejolak akibat Perang Dunia II dan pendudukan Jepang. Keraton mengalami kesulitan ekonomi dan politik.

12. Paku Buwono XII (1945–2004 M)

Raja dengan masa pemerintahan terpanjang. Ia memimpin pada masa awal kemerdekaan dan berperan penting dalam pelestarian budaya Jawa. Setelah wafatnya, terjadi perselisihan suksesi internal.

13. Paku Buwono XIII (2004–2025 M)

Masa pemerintahannya diwarnai konflik suksesi yang akhirnya diselesaikan melalui rekonsiliasi. PB XIII wafat pada November 2025 dan dikenang sebagai raja yang berupaya menjaga martabat budaya Keraton Surakarta.

Perjalanan para Paku Buwono menunjukkan bagaimana Keraton Surakarta menjadi pusat budaya yang terus bertahan menghadapi tantangan politik, kolonialisme, hingga modernisasi. Warisan mereka bukan hanya bangunan keraton, tetapi nilai-nilai estetika, adat, tata krama, dan seni Jawa yang masih hidup hingga sekarang.(CC-01)

Tags: artikel sejarahBudaya JawaKasunanan SurakartaKeraton SoloKeraton SurakartaPaku BuwonoPaku Buwono XIIIsejarah Mataramsejarah Solowarisan budaya Jawawisata sejarah Solo
Previous Post

Korupsi Dana CSR BI Diduga Mengalir ke Anggota DPRD Kendal, Dipakai Bikin Yayasan MBG

Next Post

Jokowi Respons Usulan Soeharto dan Gus Dur Jadi Pahlawan Nasional: “Semua Pemimpin Punya Jasa”

Related Posts

Kasus keracunan siswa SMAN 2 Kudus di program MBG diikuti dugaan intimidasi pergantian penyedia SPPG. (dok. istimewa)
Breaking News

Wakil Ketua DPRD Bersama Aparat Diduga Intimidasi SMAN 2 Kudus Sebelum Terjadi Keracunan Massal MBG

4 Februari 2026
Kapolres Sleman Kombes Pol Edy Setyanto disorot Komisi III DPR terkait penetapan Hogi Minaya sebagai tersangka usai mengejar penjambret. (dok. istimewa)
Breaking News

Kapolres Sleman Disorot Komisi III DPR soal Kasus Hogi Minaya, Diminta Hentikan Proses Hukum

29 Januari 2026
TNI melalui Kodim 0501/Jakarta Pusat memberi bantuan kepada Suderajat, pedagang es gabus korban kekerasan di Kemayoran. (dok. istimewa)
Nasional

TNI Beri Bantuan ke Pedagang Es Gabus Korban Kekerasan di Kemayoran, Babinsa Dihukum Disiplin

29 Januari 2026
Bupati Pati Sudewo (dok. istimewa)
Breaking News

KPK Geledah Kantor KSPPS Artha Bahana Syariah di Pati, Angkut Lima Koper Barang Bukti

25 Januari 2026
Next Post
Prabowo Subianto dan Jokowi (dok. istimewa)

Jokowi Respons Usulan Soeharto dan Gus Dur Jadi Pahlawan Nasional: “Semua Pemimpin Punya Jasa”

Discussion about this post

Tentang Kami

Panduga.id

Panduga.id adalah media digital Indonesia yang berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Pemberitaan Media Siber yang diatur oleh Pemerintah Indonesia.

“Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk manusia lain”
Pimpinan Redaksi – Agung Wisnu

Berita Terkini

  • Modus Baru Penipuan: SMS Denda Tilang Catut Nama Kejaksaan Beredar di Semarang
  • Wakil Ketua DPRD Bersama Aparat Diduga Intimidasi SMAN 2 Kudus Sebelum Terjadi Keracunan Massal MBG
  • Kapolres Sleman Disorot Komisi III DPR soal Kasus Hogi Minaya, Diminta Hentikan Proses Hukum
  • TNI Beri Bantuan ke Pedagang Es Gabus Korban Kekerasan di Kemayoran, Babinsa Dihukum Disiplin
  • Apa Itu Wabah Virus Nipah? Ini Gejala dan Tingkat Kematian yang Tinggi

Panduga Video

  • Iklan
  • Karir
  • Contact Us
  • Redaksi

Copyright: @ 2025 Panduga.id. All right reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Breaking News
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Pilkada
  • Berita Eksklusif
  • UMKM
  • Viral
  • Politik
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Bisnis

Copyright: @ 2025 Panduga.id. All right reserved