PANDUGA.ID, JAKARTA – Pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan memiliki rencana darurat untuk melarikan diri ke Rusia apabila gelombang protes nasional di Iran terus membesar dan mengancam kelangsungan rezim.
Laporan tersebut diungkap surat kabar Inggris The Times, yang menyebut rencana itu sebagai “Rencana B”. Dalam skenario tersebut, Khamenei yang kini berusia 86 tahun disebut akan dievakuasi bersama sekitar 20 orang terdekatnya, termasuk anggota keluarga inti dan para ajudan kepercayaannya.
Menurut laporan The Times, rencana pelarian itu juga mencakup upaya pengamanan jaringan aset Khamenei yang sangat besar. Berdasarkan investigasi Reuters pada 2013, aset tersebut diperkirakan bernilai sekitar 95 miliar dolar AS. Kekayaan itu antara lain berasal dari organisasi Setad, lembaga semi-negara yang sangat berpengaruh di Iran dan dikenal memiliki sistem keuangan yang tertutup dan sulit ditelusuri.
“Rencana B adalah untuk Khamenei dan lingkaran terdekatnya, termasuk putranya yang disebut-sebut sebagai calon penerus, Mojtaba,” tulis The Times mengutip sumber intelijen.
Mantan pejabat intelijen Israel, Beni Sabti, menilai Rusia menjadi satu-satunya tujuan realistis bagi Khamenei. “Tidak ada tempat lain baginya,” ujar Sabti.
Khamenei sendiri sebelumnya disebut memiliki kedekatan ideologis dan kultural dengan Rusia. Ia dilaporkan mengagumi Presiden Rusia Vladimir Putin dan menilai budaya Iran memiliki kemiripan dengan budaya Rusia.
Rencana yang diungkap The Times ini mengingatkan pada langkah mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang melarikan diri ke Moskow saat rezimnya runtuh pada November 2024. Assad kini dikabarkan menetap dengan nyaman di Rusia. The Guardian melaporkan pada 19 Desember bahwa Assad bahkan kembali menekuni bidang oftalmologi, keahlian lamanya sebelum terjun ke dunia politik.
Di tengah meningkatnya ketegangan internal di Iran, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump kembali mengintensifkan kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Teheran. Trump mengisyaratkan bahwa Washington dapat mengambil langkah keras terhadap Iran, sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Pada Minggu, akun Farsi Departemen Luar Negeri AS mengunggah foto Trump dengan pesan, “Presiden Trump adalah seorang yang bertindak. Jika Anda belum tahu, sekarang Anda tahu.” Unggahan serupa juga muncul di akun resmi Departemen Luar Negeri AS, menampilkan Trump bersama Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Utusan Khusus Steve Witkoff.
Trump bahkan memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan bertindak tegas jika aparat Iran kembali melakukan kekerasan terhadap rakyatnya. “Jika mereka membunuh orang, seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, mereka akan dihukum berat oleh Amerika Serikat,” kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One.





Discussion about this post