PANDUGA.ID, IRAN – Pemerintah Iran menegaskan bahwa kapal-kapal non-musuh tetap diperbolehkan melintasi Selat Hormuz, dengan syarat tidak terlibat dalam tindakan agresi terhadap Teheran.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh misi diplomatik tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui media sosial, seperti dilaporkan Anadolu Agency, Rabu (25/3/2026).
“Kapal-kapal non-musuh dapat memperoleh manfaat dari perlintasan aman melalui Selat Hormuz, selama tidak mendukung tindakan agresi terhadap Iran dan mematuhi aturan keselamatan yang berlaku,” demikian pernyataan tersebut.
Ketegangan Meningkat Usai Serangan AS-Israel
Penegasan ini muncul di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 1.340 orang di berbagai wilayah Iran, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah target di Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.
Akibat serangan balasan tersebut, sedikitnya 13 tentara AS dilaporkan tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.
Selat Hormuz Jadi Jalur Vital Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, yang menjadi penghubung utama distribusi energi global. Sebelum konflik meningkat, sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi jalur ini.
Namun sejak awal Maret 2026, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan mengalami pembatasan akibat situasi keamanan yang memburuk.
Dampaknya, gangguan distribusi energi global mulai terasa, termasuk:
- Kenaikan biaya pengiriman
- Lonjakan harga minyak dunia
- Ketidakpastian pasokan energi global
Perlintasan Tetap Dibuka dengan Syarat
Meski situasi memanas, Iran menegaskan tidak menutup total jalur pelayaran tersebut. Kapal-kapal masih dapat melintas selama memenuhi ketentuan yang ditetapkan otoritas Iran.
Kebijakan ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas jalur perdagangan internasional, meskipun risiko konflik di kawasan masih tinggi.






Discussion about this post